Mawar Merahku; Puisi Tentang Negeri Yang Tersakiti
Bloklimasatu.com - Gubuk kecil yang ku buat
Dari belukar dan anyaman
Ku tali di atas pohon kerdil
Rindang
Untuk berteduhmu
Tak ada wewangian
Hanya setangkai mawar
Ya... setangkai mawar merah
Yang tumbuh dengan percikan air dari lembutnya embun malam itu
Bloklimasatu.com -
Gubuk kecil yang ku buat
Dari belukar dan anyaman
Ku tali di atas pohon kerdil
Rindang
Untuk berteduhmu
Tak ada wewangian
Hanya setangkai mawar
Ya... setangkai mawar merah
Yang tumbuh dengan percikan air dari lembutnya embun malam itu
Tak perlu halaman luas untukmu menikmati langit sore ini
Cukup tiga jengkal persegi saja
Tak perlu juga rumput jepang karena aku takut melukai kulit surgamu
Dua daun jati yang jatuh siang tadi rasanya cukup sempurna
Untuk menyaksikan matahari menggoreskan siluet senja
Aku tak ingin memelukmu
Apalagi mengusik kulit arimu
Aku hanya ingin menjadi tiang saat kau ingin bersandar
Menjadi atap saat dingin dan panas dunia tak lagi bercengkerama
Meski kau bunga
Aku tak mau menjadi kumbang atau lebah
Bukan karena aku tak ingin menghisap sarimu
Tapi aku ingin bunga itu tetap mekar
Dalam kepulan asap
Dalam rongrongan alat berat
Tak apa sayang...
Meski hina di mata insan
Aku akan berusaha menikmati keonanianku ini
Karena aku tak mau
Darah dan air mata itu
Tersiram sia-sia untuk menumbuhkanmu
Tetaplah tumbuh
Tetaplah mekar
Tetaplah memancarkan keharuman
Meski sekitarmu berbau busuk.
Ku tali di atas pohon kerdil
Rindang
Untuk berteduhmu
Tak ada wewangian
Hanya setangkai mawar
Ya... setangkai mawar merah
Yang tumbuh dengan percikan air dari lembutnya embun malam itu
Tak perlu halaman luas untukmu menikmati langit sore ini
Cukup tiga jengkal persegi saja
Tak perlu juga rumput jepang karena aku takut melukai kulit surgamu
Dua daun jati yang jatuh siang tadi rasanya cukup sempurna
Untuk menyaksikan matahari menggoreskan siluet senja
Aku tak ingin memelukmu
Apalagi mengusik kulit arimu
Aku hanya ingin menjadi tiang saat kau ingin bersandar
Menjadi atap saat dingin dan panas dunia tak lagi bercengkerama
Meski kau bunga
Aku tak mau menjadi kumbang atau lebah
Bukan karena aku tak ingin menghisap sarimu
Tapi aku ingin bunga itu tetap mekar
Dalam kepulan asap
Dalam rongrongan alat berat
Tak apa sayang...
Meski hina di mata insan
Aku akan berusaha menikmati keonanianku ini
Karena aku tak mau
Darah dan air mata itu
Tersiram sia-sia untuk menumbuhkanmu
Tetaplah tumbuh
Tetaplah mekar
Tetaplah memancarkan keharuman
Meski sekitarmu berbau busuk.
4 komentar
Thanks gan. Tp itu puisi,. :v :v